IPDN Ikut Bangun Desa di Kabupaten Bandung

oleh
AS10

Sekda berpendapat, pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan akademika sangatlah penting dalam upaya memajukan daerah serta masyarakat pada umumnya.

JOURNALINVESTIGASI.ID | Bandung – Setelah mengikuti praktek lapangan selama 14 hari, sebanyak 2.112 Muda Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, mengikuti Upacara Penutupan Praktek Lapangan I di Lapang Upakarti Soreang, Selasa (13/8/2019).

Ribuan muda praja tersebut, selama kurun dua pekan itu tersebar di 10 kecamatan dan 80 desa di Kabupaten Bandung.

Saat membacakan sambutan tertulis Bupati Bandung H. Dadang M Naser, SH., S.Ip., M.Ip, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung Drs. H. Teddy Kusdiana, M.Si menyampaikan apresiasi kepada seluruh civitas IPDN yang telah memilih Kabupaten Bandung sebagai lokasi praktek lapangan.

as11

“Atas nama Pemkab Bandung, saya mengucapkan terimakasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya terhadap civitas IPDN yang telah memberikan perhatian terhadap pembangunan di Kabupaten Bandung, melalui kegiatan yang berkaitan dengan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan,” jelas Sekda.

Dirinya berpendapat, pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan akademika sangatlah penting dalam upaya memajukan daerah serta masyarakat pada umumnya.

“Praktek lapangan pada saat ini telah dikembangkan menjadi wahana penerapan ilmu dan teknologi untuk membantu serta mendampingi masyarakat untuk melakukan pemberdayaan menuju kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.

IPDN sendiri, lanjut Teddy, merupakan miniatur Indonesia, sehingga merupakan tempat yang tepat untuk mendidik dan mengembangkan jiwa kepemimpinan para pamong praja muda yang memiliki latar belakang suku yang berbeda.

“Dengan demikian, pamong praja merupakan agen-agen perjuangan, pembangunan juga agen revolusi mental. Selain itu, kami juga mengimbau agar praja muda IPDN yang telah melaksanakan praktek lapangan mampu menyerap dan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat,” lanjut Teddy.

Selain itu, ia juga berharap, kerjasama yang dilaksanakan dapat memberikan hasil yang signifikan dalam pembangunan Kabupaten Bandung, sehingga pencapaian visi dan misi Pemerintah Kabupaten Bandung dapat terealisaikan.

“Semoga kerjasama ini dapat memberikan kontibusi yang positif, khususnya dalam pembangunan di Kabupaten Bandung,” harap Sekda.

Sementara Kepala Satuan Latihan Kabupaten (Kasatlatkab) Petrus Polyando memaparkan, praktek lapangan muda praja dimulai dari 31 Juli – 13 Agustus 2019, dengan lokus 10 kecamatan dan 80 desa.

“Yang menjadi lokus praktek lapangan antara lain, Kecamatan Rancabali (5 desa), Ibun (9 desa), Kertasari (8 desa), Cimaung (8 desa), Pasirjambu (8 desa), Pacet (9 desa), Paseh (9 desa), Ciwidey (7 desa), Arjasari (8 desa) dan Pangalengan (9 desa),” papar Kasatlatkab.

Petrus mengungkapkan, kegiatan praktek lapangan itu menyatukan dua visi, yakni visi IPDN dan visi Kabupaten Bandung.

“Salah satu visi yang dimiliki IPDN adalah pengabdian kepada masyarakat, dimana muda praja bisa lebih mengenal seperti apa praktek penyelenggaraan pemerintah yang ada di daerah, khususnya di desa. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu Pemkab Bandung dalam mencapai visinya,” ungkap Petrus.

Ia juga berharap, masyarakat yang menjadi lokus praktek lapangan bisa terus melanjutkan inovasi yang sudah dibuat oleh muda praja.

“Seperti yang kita ketahui bersama orientasi pembangunan kita saat ini adalah desa, desa yang membangun negeri. Oleh karena itu, kehadiran kami adalah untuk memfasilitasi masyarakat desa, salah satunya dengan menciptakan inovasi yang tetap bermanfaat bagi masyarakat, meskipun kegiatan ini sudah berakhir,” harapnya.

Pada kegiatan yang sama, Muda Praja Fredo Waang asal Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkapkan, banyak pembelajaran yang bisa diambil dari kegiatan tersebut, salah satunya adalah masalah lingkungan.

“Kami sempat mengunjungi Sungai Citarum, memang kondisinya sangat memprihatinkan. Melihat hal ini, kami melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang sampah plastik dan membuat tempat sampah yang disimpan di beberapa SD di Desa Tanjungwangi. Semoga apa yang kami lakukan ini, setidaknya dapat mengurangi pencemaran di Sungai Citarum,” ungkap Fredo.

Tak hanya itu, dirinya juga mengapresiasi masyarakat Desa Tanjungwangi Kecamatan Pacet yang ikut berpartisipasi dalam menjalankan inovasi kelompoknya.

“Kami sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Tanjungwangi. Tidak ada kendala yang berarti dalam praktek lapangan,” pungkas Fredo.* [wan/hen]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *