2.565 Remaja Perempuan Kabupaten Bandung, Lulusan Pertama Program P.A.C.E

oleh
as9

Bupati Dadang Naser : ‘Perempuan pebisnis unggul sudah dicontohkan pada jaman Siti Khadijah’

JOURNALINVESTIGASI.ID | Bandung – Sebanyak 2.565 remaja perempuan Kabupaten Bandung, lulus dalam program Personal Advancement and Career Enhancement (P.A.C.E) Angkatan ke-1. Program yang terselenggara berkat kerjasama Pemerintah Kabupaten Bandung dengan Care International Indonesia dan Gap Inc. ini, berlangsung sejak bulan April hingga Juli 2019.

Program P.A.C.E Fase 1 telah dilaksanakan di 15 sekolah formal/ SMP dan 5 sekolah non-formal/Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di empat kecamatan, yaitu Banjaran, Baleendah, Dayeuhkolot dan Pameungpeuk. P.A.C.E merupakan sebuah inisiatif program bagi remaja perempuan. Mereka diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri, cakap dalam memecahkan masalah, serta matang dalam merencanakan masa depan.

Bupati Bandung H. Dadang M. Naser pada kesempatan itu menyerahkan secara simbolis sertifikat kelulusan kepada salah satu peserta. Ia mengimbau agar anak perempuan Kabupaten Bandung jangan tanggung dalam bercita-cita.

“Bercita-cita jangan tanggung. Silakan bercita-cita jadi dokter, tentara atau yang lainnya, tapi harus menguasai juga ilmu bisnis. Tanamkan motivasi dalam diri untuk jadi pengusaha, bukan pegawai,” imbuh Bupati Dadang Naser dalam sambutannya disela-sela acara Graduation Day Program P.A.C.E dan Peringatan Hari Anak tingkat Kabupaten Bandung Tahun 2019 di Dome Bale Rame Soreang, Selasa (13/9/2019).

Bupati melanjutkan, perempuan pebisnis unggul sudah dicontohkan pada jaman Siti Khadijah dan kaum perempuan merupakan penentu keberhasilan suatu negara. “Siti Khadijah itu pebisnis unggul, dan derajat kaum perempuan sudah disampaikan dalam Al Qur’an sebagai penentu negara. Manakala baik perempuan, akan maju suatu negara. Sebaliknya, manakala hancur perempuan, akan hancur pula suatu negara,” lanjut Bupati.

Ia pun tidak lupa memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pihak CARE International Indonesia dan Gap Inc., atas terselenggaranya program tersebut. Dengan dijalankannya program P.A.C.E kata Dadang Naser, akan memotivasi anak-anak perempuan Kabupaten Bandung untuk menjadi perempuan tangguh di masa mendatang.

“Terima kasih kepada CARE International dan Gap Inc., mudah-mudahan kerjasama ini dapat terus berlanjut. Membentuk perempuan tangguh yang percaya diri dan punya cita-cita tinggi, akan mewujudkan Kabupaten Bandung yang maju, mandiri dan berdaya saing. Saat ini baru sekitar 2.500 an anak, saya minta Dinas Pendidikan (Disdik) untuk mengadopsi dan menerapkan program ini di sekolah-sekolah yang ada di kecamatan lainnya,” pungkas Dadang Naser.

Kegiatan graduation day yang mengusung tema ‘Aku Anak Indonesia, Aku Tangguh Menyongsong Masa Depan’ tersebut, didukung oleh beberapa Perangkat Daerah (PD) Kabupaten Bandung. Diantaranya Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A), Disdik, Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) dan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistika (Diskominfo).

Senior Manager Care International Mrs. Meagan Endrew menambahkan, program ini mengetengahkan empat modul yang disampaikan selama 43 jam pelajaran, dan terbagi dalam 23 pertemuan. “Ada empat modul yang kami sampaikan dalam program P.A.C.E, yaitu ‘me and my relationship (aku dan relasiku), me and my body (aku dan tubuhku), me and my emotion (aku dan emosiku) dan me and my dreams (aku dan mimpiku). Dengan program ini diharapkan perempuan indonesia mengenali diri dan potensinya untuk menjadi wanita tangguh (woman resilience) di masa depan,” kata Meagan.

Siswi SMPN 2 Pameungpeuk Rahmadani Syahrudin mengatakan, dulu ia sempat berkecil hati dengan pendapat lingkungan di sekitarnya.

“Banyak orang bilang ‘ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga ke dapur’. Setelah mengikuti program ini, saya lebih percaya diri. Kalaupun perempuan itu nantinya tetap berakhir di dapur, tapi kita harus punya pendidikan dan cita-cita yang tinggi. Setidaknya kita tidak mudah dilecehkan dan direndahkan oleh lingkungan sekitar kita,” kata Rahmadani.* [wan/hen]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *